Tuesday, April 30, 2013

Hubungan Kebudayaan dan Agama




a. Pengertian Kebudayaan

Dalam menjelaskan pengertian kebudayaan, para ahli

memberikan bermacam-macam rumusan definisi. Menurut

Koentjaraningrat kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan

rasa, tindakan, serta yang dihasilkan manusia dalam kehidupan

masyarakat, yang dijadikan miliknya dengan cara belajar.



Dengan pengertian seperti itu, Koentjaraningrat menyatakan

bahwa hampir semua tindakan manusia adalah kebudayaan. Tindakan

manusia hampir seluruhnya merupakan hasil kegiatan belajar.

Tindakan manusia yang tidak diakukan melalui belajar jumlahnya

sangat terbatas. Seseorang dapat berbicara dengan suatu bahasa

sehingga dapat berkomunikasi karena ia belajar dari orang lain, yaitu

orang tuanya, saudara-saudaranya, orang di sekitarnya dan di

sekolahnya. Sesorang dapat melakukan hubungan dan kerjasama

dengan orang lain karena orang tuanya dan orang-orang dewasa

mengajarkan kepada mereka cara dan etika berhubungan dengan

orang lain sehingga mengerti apa yang harus dikatakan, apa yang

harus dikerjakan agar orang lain dapat menerima tindakantindakannya.

Seseorang menggunakan berbagai peralatan hidup dari yang

paling sederhana peralatan makan dan minum, peralatan pertanian,

peralatan pertukangan, peralatan belajar, dan alat-alat yang bersifat

teknologi tinggi seperti mengendarai mobil, menggunakan komputer,

menjalankan kereta api, pesawat udara dan kapal di laut semua

diperoleh dari hasil belajar. Pada mulanya ketika masih kecil orang

tidak dapat menggunakan alat-alat makan, namun orang tuanya

mengajari cara menggunakan alat-alat makan sehingga ia dapat

menggunakan secara benar.



Seseorang membuat karya seni, misalnya menggambar

lukisan, membuat kerajinan dan hiasan-hiasan tidak dapat dilakukan

tanpa usaha belajar. Orang tua, guru, kerabat yang lebih tua umurnya

telah berjasa memberikan pelajaran dan bimbingan hingga orang

tersebut dapat membuat karya seni tertentu.



Di bidang ilmu pengetahuan, kemampuan membaca, menulis,

dan berhitung juga merupakan hasil belajar. Seseorang dapat

membaca, menulis dan berhitung karena ia belajar kepada orang lain.

Pengetahuan yang diperoleh manusia, tentang nama dan hitungan

hari, bulan, tahun dan nama-nama benda di sekitarnya diketahui

melalui belajar.



Kepercayaan dan pemahaman keagamaan yang dipunyai

warga juga diperoleh melalui belajar. Seseorang menganut agama,

mempercayai Tuhan, menjalankan peribadatan dan menggunakan

pakaian keagamaan diperoleh dari belajar.



Berbagai tindakan yang bersifat naluri seperti mengantuk, tidur,

makan dan minum juga telah di pengaruhi oleh manusia menjadi

tindakan kebudayaan. Perilaku tidur adalah perilaku biologis, tetapi

pengaturan waktu tidur, tempat tidur dan cara tidur diperoleh melalui

belajar. Mengantuk sebagai peristiwa biologis juga dipengaruhi

kebudayaan. Misalnya apa yang harus dilalukan dan yang tidak boleh

dilakukan jika ia mengantuk.



Ahli antropologi umumnya mengartikan kebudayaan dalam arti

luas. Kebudayaan dalam arti luas tidak saja pengkajian tentang seni

dan keindahan. Kebudayaan dalam arti luas adalah himpunan

pengalaman yang dipelajari. Suatu kebudayaan -misalnya

kebudayaan Jepang – mengacu pada pola-pola perilaku yang

ditularkan secara sosial, yang merupakan kekhususan kelompok sosial

tertentu.



Kebudayaan menurut Goodenough ( dalam Keesing, 1989:68)

sering diartikan dalam dua arah pengertian yang berbeda, yaitu pola

untuk perilaku dan pola dari perilaku. Oleh karena itu kebudayaan

sering diartikan dalam dua pengertian yang berbeda: pertama, pola

kehidupan suatu masyarakat yang mencakup kegiatan dan pengaturan

material dan sosial yang berulang secara teratur yang merupakan

kekhususan suatu kelompok manusia tertentu; kedua, kebudayaan

merupakan sistem pengetahuan dan kepercayaan yang disusun

sebagai pedoman manusia dalam mengatur pengalaman dan

persepsi mereka, menentukan tindakan, dan memilih di antara

alternatif yang ada.



Roger M. Keesing lebih berpihak pada pengertian kebudayaan

yang dikemukakan oleh Goodenough. Ia mengartikan kebudayaan

sebagai sistem pemikiran. Kebudayaan dalam pengertian ini

mencakup sistem gagasan yang dimiliki bersama, sistem konsep,

aturan serta makna yang mendasari dan diungkapkan dalam tatacara

kehidupan manusia. Kebudayaan dalam pengertian tersebut mengacu

pada hal-hal yang dipelajari, bukan pada hal-hal yang dikerjakan

(Keesing, 1989: 68 – 69).



Sebenarnya pengertian kebudayaan yang dikemukakan oleh

Koentjaraningrat juga mencakup sistem ide. Koentjaraningrat bertolak

dari pendapat J.J.Honingmann, menjelaskan bahwa suatu kebudayaan

mempunyai tiga wujud yaitu wujud ide, wujud aktivitas dan wujud

benda. Koentjaraningrat selanjutnya mengatakan bahwa setiap

kebudayaan suatu masyarakat di dalamnya terkandung nilai budaya.

Nilai budaya oleh Koentjaraningrat dikatakan sebagai bagian dari

wujud kebudayaan ide. Suatu sistem nilai budaya terdiri atas konsepsikonsepsi

yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga

masyarakat mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat

bernilai dalam hidup. Karena suatu sistem nilai budaya biasanya

berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia. Sistemsistem

tata kelakuan lain yang tingkatnya lebih konkret seperti aturanaturan

khusus, hukum dan nor,ma-norma, semuanya juga

berpedoman kepada sistem nilai budaya itu.



Kebudayaan ide, yang berupa sistem nilai budaya menurut

Koentjaraningrat seolah-olah berada di luar dan di atas diri individu

yang menjadi warga masyarakat yang bersangkutan. Para indivdu

sejak kecil telah diresapi dengan nilai-nilai budaya yang hidup dalam

masyarakatnya sehingga konsepsi-konsepsi itu sejak lama telah

berakar dalam alam jiwa mereka. Oleh sebab itu nilai-nilai budaya

sukar diganti dengan nilai-nilai budaya lain dalam waktu singkat.



Berdasarkan penjelasan di atas tampak meskipun berbeda

rumusan definisi kebudayaan, ada kesamaannya. Kesamaan

pengertian kebudayaan tersebut bahwa kebudayaan adalah milik diri

manusia dan diperoleh melalui belajar. Perbedaannya dalam rumusan

definisi kebudayaan yang dikemukakan oleh Goodenough lebih folus

dibandingkan dengan yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat.

Pengertian kebudayaan dari Goodenough dan Keesing mendekati

sama dengan pengertian kebudayaan ide dalam penjelasan

Koentjaraningrat.



Kebudayaan memiliki unsur-unsur yang saling berkaitan

antara satu dengan yang lain. Koentjaraningrat bertyolak dari pendapat

C. Kluckhohn mengemukakan terdapat tujuh unsur kebudayaan yang

bersifat universal yaitu yang terdapat di berbagai masyarakat di dunia.

Ketujuh unsur tersebut adalah:

1. Bahasa.

2. Sistem pengetahuan,

3. Organisasi sosial,

4. Sistem peralatan hidup

5. Sistem mata pencaharian hidup

6. Kesenian

7. Sistem agama.



b. Agama sebagai Kebudayaan

Berdasarkan pemahaman tentang tujuh unsur kebudayaan di

atas sistem agama yang dalam istilah lain disebut agama merupakan

bagian dari kebudayaan. Agama dalam kaitan ini adalah suatu yang

diyakini, dipahami dan dilakukan warga masyarakat bukan sebagai

ajaran atau dalam istilah Koentjaraningrat sebagai sistem agama.

Agama dalam kaitan ini berupa gagasan yang terdapat dalam

masyarakat tentang tuhan, dewa, kekuatan supernatural lain, tentang

sastera keagamaan, tentang upacara-upacara yang dilakukan

masyarakat, hubungan-hubungan komunitas agama, dan kerjasama

keagamaan sampai dengan benda-benda keagamaan yang menjadi

bagian dari kehidupan masyarakat.



Agama dalam arti yang terdapat dan hidup dalam masyarakat

merupakan hasil belajar. Oleh karena itu agama dalam pengertian

tersebut dikategorikan kebudayaan. Sebagai contoh dalam kehidupan

orang yang sesama penganut Islam, mereka memiliki beragam variasi

atau corak kehidupan keagamaan yang terdapat di masyarakat,

meskipun mereka mendasarkan pada ajaran yang sama. Sebagian

penganut Islam menyelenggarakan ritus yang disebut tahlilan,

Yasinan, Manakiban, Berjanjen (baca kitab Barzanji) dan penganut

Islam yang lain tidak melakukannya. Sebagian orang Islam melakukan

tradisi halal bihalal pada hari Idul Fitri seperti orang Islam di Indonesia

tetapi hal itu tidak dilakukan penganut Islam di Saudi Arabia.



Bangunan masjid di Jawa berbeda dengan bentuk bangunan masid di

Maroko. Ciri pakaian muslim dalam melakukan shalat di Indonesia

yang cenderung banyak yang memakai pakaian biasa lengan panjang,

memakai sarung dan kopiah di kepala, hal itu tidak di kenal pada

masyarakat Islam di Iran. Orang Islam di Iran merayakan hari tanggal

10 bulan Muharram (dalam kalender Islam) untuk memperingati

terbunuhnya Hussein bin Ali yang meninggal di Karbala, hal itu tidak

dilakukan oleh komunitas penganut Islam di Indonesia. Di komunitas

Islam pendukung ormas NU, sebelum shala lima waktu di masjid-masjid

dan mushalla-mushalla atau “langgar” melakukan “puji-pujian”

(nyanyian keagamaan) dan di komunitas Islam lainnya misalnya

pendukung ormas Muhammadiyah tidak melakukan. Hal itu karena

agama dalam contoh-contoh di atas merupakan agama sebagai

kebudayaan yang dihasilkan oleh penganut agama Islam. Agama

dalam contoh-contoh di atas tidak secara eksplisit terdapat dalam

ajaran/kitab suci.



Agama dilihat sebagai ajaran yang terdapat dalam kitab suci

cenderung tidak terdapat perbedaan yang prinsip. Dalam ajaran

Islam dikenal ada lima rukun Islam baik pada kitab suci orang Islam

Indonesia maupun Mesir, Saudi Arabia, Malaysia dan sebagainya.

Dalam sumber-sumber ajaran Islam terdapat ajaran tentang shalat

wajib, puasa, zakat dan ibadah haji. Ajaran Islam di manapun

menyebutkan nama tuhan dengan nama Allah, mengenal ajaran

keimanan yang meliputi rukun Iman dan lain-lain. Agama berdasarkan

contoh Islam yang diajarkan dalam kitab-kitab suci cenderung tidak

banyak perbedaan, sebaliknya agama dalam arti kebudayaan

sebagaimana dipahami dan dilakukan oleh masyarakat cenderung

banyak perbedaan. Dengan demikian ada perbedaan yang jelas

agama sebagai kebudayaan dan agama dalam arti ajaran.



Agama sebagai kebudayaan adalah agama yang merupakan

hasil pemahaman dan penafsiran manusia terhadap ajaran agama.

Penafsiran adalah sesuatu yang dipengaruhi oleh akal pikiran dan

lingkungan sosial masyarakat yang bersangkutan. Penafsiran dan

pemahaman agama orang Indonesia dipengaruhi oleh cara

berpikir dan lingkungan sosial masyarakat Indonesia. Hal itu

mengakibatkan corak keagamaan komunitas agama di berbagai

tempat dari penganut agama yang sama menjadi beragam.

Diakui tidak mudah memahamkan kepada sebagaian

masyarakat terutama di Indonesia bahwa dalam istilah agama

terkandung pengertian agama sebagai ajaran dan sebagian lagi

merupakan kebudayaan. Masyarakat awam cenderung sulit

membedakan, dan mereka cenderung menolak memahami pengertian

agama sebagai kebudayaan.



Agama memiliki arti yang sangat penting dalam masyarakat.

Suparlan (dalam Robertson terjemahan Saefuddin, 1998: v-xvi)

menjelaskan tentang arti penting agama dalam masyarakat. Bagi

para penganutnya, agama berisikan ajaran-ajaran mengenai

kebenaran tertinggi dan mutlak tentang eksistensi manusia dan

petunjuk-petunjuk untuk hidup selamat di dunia dan di akherat (setelah

mati), yaitu sebagai manusia yang taqwa kepada Tuhannya, beradab,

dan manusiawi, yang berbeda dari cara-cara hidup hewan atau

mahluk-mahluk gaib yang jahat dan berdosa (jin, setan, dan

sebagainya).



Agama sebagai sistem keyakinan dapat menjadi bagian dan inti

dari sistem-sistem nilai yang ada dalam kebudayaan dari masyarakat

yang bersangkutan, dan menjadi pendorong atau penggerak serta

pengontrol bagi titndakan-tindakan para anggota masyarakat tersebut

untuk tetap berjalan sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan ajaranajaran

agamanya. Dalam keadaan di mana pengaruh ajaran-ajaran

agama itu sangat kuat terhadap sistem-sistem nilai dari kebudayaan

tersebut terwujud sebagai simbol-simbol suci yang maknanya

bersumber pada ajaran-ajaran agama yang menjadi kerangka

acuannya.



Dalam keadaan demikian maka, secara langsung atau tidak

langsung, etos yang menjadi pedoman dari eksistensi dan kegiatan

berbagai pranata yang ada dalam masyarakat (keluarga, ekonomi,

politik, pendidikan, dan sebagainya), dipengaruhi, digerakkan, dan

diarahkan oleh berbagai sisten nilai yang sumbernya adalah pada

agama yang dianutnya; dan terwujud dalan kegiatan-kegiatan para

warga masyarakatnya sebagai tindakan-tindakan dan karya-karya

yang diselimuti oleh simbol-simbol suci.



Agama, sebagai sebuah sistem keyakinan, berisikan ajaran dan

petunjuk bagi para penganutnya supaya selamat (dari api neraka)

dalam kehidupan setelah mati. Karena itu juga, keyakinan keagamaan

dapat dilihat sebagai berorientasi pada masa yang akan datang.

Dengan cara mengikuti kewajiban-kewajiban keagamaan dalam

kehidupan sehari-hari, sesuai dengan agama yang dianut dan

diyakininya, sebenarnya para penganut agama tersebut menabung

pahala untuk masa yang akan datang ( dalam kehidupan setelah mati).

Dan salah satu ciri yang mencolok yang ada dalam agama, yang

berbeda dari isme-isme yang lainnya, adalah penyerahan diri secara

total kepada Tuhannya. Penyerahan diri ini tidak terwujud dalam

bentuk ucapan melainkan dalam tindakan-tindakan keagamaan dan

bahkan juga dalam tindakan-tindakan duniawi sehari-hari. Tidak ada

satu agamapun yang tidak menuntut adanya penyerahan diri secara

total dari para penganut atau pemeluknya, termasuk juga agamaagama

lokal yang di indonesia digolongkan sebagai agama atau

kepercayaan.



Dari ciri-ciri agama seperti tersebut di atas sebenarnya dapat

dikatakan bahwa agama merupakan sistem keyakinan yang yang

dipunyai secara individual yang melibatkan emosi-emosi dan

pemikiran-pemikiran yang sifatnya pribadi, dan yang diwujudkan dalam

tindakan-tindakan keagamaan (upacara, ibadah dan amal ibadah)

yang sifatnya individual ataupun kelompok dan sosial yang melibatkan

sebagian atau seluruh masyarakat. Mengapa keyakinan yang sifatnya

pribadi dan individual tersebut dapat terwujud sebagai tindakan

kelompok atau masyarakat? Sebab yang utama adalah dari hakekat

agama itu sendiri yang salah satu penekanan ajarannya adalah hidup

dalam kebersamaan dengan orang lain atau hidup dengan

masyarakat. Bahkan dalam hal pahala, misalnya, pahala yang lebih

banyak adalah dalam kegiatan beribadah secara berjamaah

dibandingkan dengan kegiatan ibadat secara individual.

Kegiatan-kegiatan keagamaan dalam bentuk berjamaah,

kongregasi, atau upacara-upacara keagamaan dalam kelompok amat

penting dalam setiap agama; sehingga seperti dinyatakan oleh

Durkheim dalam buku terjemahan ini bahwa dasar landasan

kehidupoan keagamaan dan agama adalah dari dan didalam

kehidupan sosial itu sendiri. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa

keyakinan mengenai yang suci dan yang gaib, yang hanya dipunyai

oleh seorang individu dengan tindakan-tindakannya, bukanlah

keyakinan agama. Sistem keyakinan tersebut tergolong sebagai

keyakinan pribadi, atau kalau keyakinan dan tindakantindakan tersebut

berorientasi kepada masalah-masalah duniawi dan untuk masa kini

serta bersifat manipulatif, dapat juga dinamakan sebagai magi.



Dalam kelompok atau yang kebersamaan yang dilandasi oleh

satu ajaran agama, keyakinan keagamaan dari anggota-anggota

kelompok menjadi kuat dan mantap. Tidak akan ada kesimpangsiuran

dalam pemahaman mengenai pedoman dan landasan yang

menentukan arah keyakinan keagamaan yang telah ditentukan dalam

kitab suci agamanya, dari “penjabat-penjabat” resmi agama (para

sahabat nabi dan iman besar) mengenai interpretasi dan penjelasan

ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan nabi sebagaimana tertulis

dalam buku-buku resmi agama yang dianut kelompok tersebut, begitu

juga pemahaman dan keyakinan mereka atas tradisi-tradisi

keagamaan yang berlaku. Dalam kelompok tersebut itulah keteraturan

dimantabkan berdasarkan atas norma-norma yang berlaku dalam

kehidupan kelompok apapun dan dimanapun yang bukan kelompok

keagamaan. Yang dimaksudkan dengan “berdasarkan atas normanorma”

adalah bagaimana para anggota kelompok diharapkan untuk

bertindak dan berkeyakinan, dan bagaimana mereka itu diharapkan

untuk bertindak dan berkeyakinan, dan bagaimana mereka itu

diharapkan untuk menginterpretasi serta menghasilkan benda-benda

dan mewujudkan kegiatan-kegiatan sesuai dengan keyakinan

keagamaan dari kelompok tersebut.



Dalam kehidupan berkelompok atau bermasyarakat inilah

tradisi-tradisi keagamaan yang dimiliki oleh individu menjadi bersifat

kumulatif dan kohesif, yang menyatukan keanekaragaman interpretasi

dan sistem-sistem keyakinan keagamaan. Penyatuan

keanekaragaman itu dapat terjadi karena, pada hakekatnya, dalam

setiap kehidupan berkelompok terdapat pola-pola interaksi tertentu

yang mlibatkan dua orang atau lebih, dan dari pola-pola tersebut para

anggotanya secara bersama memiliki satu tujuan atau tujuan-tujuan

utama yang diwujudkan sebagai tindakan-tindakan berpola. Itu

dimungkinkan karena kegiatan-kegiatan kelompok tersebut terarah

atau terpimpin berdasarkan atas norma-norma yang disepakati

bersama, yang terwujud dari kehidupan bekelompok. Karena adanya

norma-norma tersebut sebuah kelompok sebenarnya adalah juga

sebuah sistem status, yang menggolong-golongkan para anggotaanggotanya

dalam status-status yang bertingkat-tingkat atau hirarki,

yang masing-masing mempunyai kekuasaan dan kewenangan serta

prestise yang berbeda-beda sesuai dengan tujuan-tujuan utama yang

ingin dicapai pleh kelompok tersebut.



Kelompok-kelompok tersebut terwujud karena adanya

kesamaan tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh para anggotanya, dan

mereka merasa bahwa dalam kelompok itulah tujuan-tujuan yang ingin

dicapai akan terlaksana dengan lebih baik. Dalam kelompok

keagamaan tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh para anggotanya

didasari oleh keyakinan keagamaan mereka, suatu keyakinan yang

berisikan penjelasan-penjelasan dan petunjuk-petunjuk untuk

memahami gejala-gejala dan pengalaman-pengalaman; penjelasan

yang menghasilkan penemuan-penemuan mengenai kenyataankenyataan

yang dihadapi dalam kehidupan manusia. Kehidupan

manusia, dimanapun, tidak selamanya mulus; selalu dibayangi oleh

kegagalan, frustasi dan rasa ketidakadilan. Agama menjadi fungsional

dalam struktur kehidupan manusia dalam usaha untuk mengatasi dan

menetralkan bayangan-bayangan buruk tersebut. Usaha-usaha

menetralkan dan mengatasi hal-hal buruk dalam kehidupan manusia

yang dilakukan dalam kelompok dirasakan sebagai lebih efektif dan

meyakinkan dibandingkan dengan usaha-usaha secara pribadi, karena

dalam kelompok usaha-usaha tersebut dapat diletakkan dalam suatu

konteks sistem yang lebih besar dari kegiatan-kegiatan kelompok

dengan beban yang ditanggung bersama. Dalam sistem yang lebih

besar tersebut penjelasan-penjelasan mengenai hal-hal buruk yang

selalu dihadapkan dalam kehidupan manusia dilihat sebagai suatu

bagian dari sistem mekanisme dunia gaib yang turut campur dalam

kehidupan duniawi dan harapan-harapan yang dapat ditumbuhkan

melalui kebersamaan serta usaha-usaha penyelamatan dan

perlindungan dari Tuhan dari segala malapetaka dunia dan akhirat.



Secara struktural-fungsional agama melayani kebutuhankebutuhan

manusia untuk mencari kebenaran dan mengatasi dan

menetralkan berbagai hal bururk dalam kehidupannya. Semua agama

menyajikan formula-formula tersebut, yang pada hakekatnya bersifat

mendasar dan umum berkenaan dengan eksistensi dan perjalanan

hidup manusia, yang masuk akal dan rasional sesuai dengan

keyakinan keagamaannya, mendalam serta penuh dengan muatanmuatan

emosi dan perasaan yang manusiawi (lihat Geertz 1966: 1-46).

Karena hal-hal buruk yang dihadapi oleh manusia selalu membayangi

kehidupannya, dan karena agama dapat menyajikan penjelasanpenjelasan

yang masuk akal dan cara-cara yang mendasar dan umum

untuk menetralkan atau mengatasi bayangan-bayangan buruk

tresebut, maka juga agama tetap lestari dalam kehidupan manusia,

sepanjang zaman selama manusia itu ada.



Kelesratian agama dalam struktur kehidupan manusia juga

disebabkan, antara lain, oleh hakekat dari kehidupan dan kegiatankegiatan

kelompok keagamaan. Setiap kelompok keagamaan,

kelompok keagamaan apapun dan dimanapun, serta kapanpun, selalu

menaruh perhatian pada peremajaan atau regenerasi bagi

kelangsungan kehidupan kelompok keagamaan tersebut. Secara

langsung ataupun tidak langsung tertarik pada dan melakukan

kegiatan-kegiatan untuk kelestarian sistem keyakinan keagamaan

yang dianut kelompok tersebut. Ini dilakukan dengan menarik para

anggota yang terdiri dari anggota-anggota keluarga dan kerabat dari

anggota kelompok, khususnya para anggota muda dan anak-anak.



Kelompok keagamaan menyajikan pendidikan keagamaan bagi para

anggota baru melalui pendidikan formal maupun melalui sosialisasi

yang dilakukan oleh para orang tua (yang menjadi anggota kelompok),

dalam lingkungan keluarga, kepada anak-anak dan kerabat yang lebih

muda. Adanya anggota-anggota muda menyebabkan kelompokkelompok

keagamaan tetap lestari, begitu juga keyakinan-keyakinan

keagamaan yang dianut, walaupun proses regenerasi berlangsung

secara alamiah--generasi sebelumnya menjadi tua, lalu mati.



Kelompok-kelompok keagamaan juga tidak hanya melakukan

kegaiatan-kegiatan peribadatan dan pendidikan saja, tetapi juga

melaksanakan berbagai kegiatan sosial dan derma bagi masyarakat

pada umumnya, dan memproduksi benda-benda yang berguna dalam

kehidupan manusia (khususnya benda-benda dan bacaan-bacaan

keagamaan) dan memberikan jasa-jasa dan pelayanan keagamaan

ataupun sosial yang setidak-tidaknya berguna bagi kebutuhan para

anggotanya. Melalui kegiatan-kegiatan kelompok tersebut di atas, juga

ditanamkan semacam keterikatan dan solidaritas sosial dan

kemasyarakatan yang terpusat pada simbol-simbol utama dan suci

dari agama yang dianut, gereja, totem, masjid, atau lainnya (lihat,

Durkheim 1965). Dengan melalui kegiatan-kegiatan kelompok

keagamaan tersebut maka agama dari zaman ke zaman tetap ada

dalam struktur kehidupan manusia. Agama memang mengalami

perubahan-perubahan (lihat, Geertz 1071), tetapi yang berubah adalah

tradisi-tradisi keagamaan atau sistem-sistem keyakinan keagamaan

sedangkan teks suci atau doktrin agama itu sendiri, sebagaimana

tertuang dalam kitab suci, tidak berubah. Jadi agama tidak akan hilang

dan digantikan dengan sistem kehidupan sekuler, demikian diramalkan

oleh para ahli sosialogi, dan masalah yang penting ini dikemukakan

dan dianalisa pula oleh Ronald Robertson dalam kata pendahuluan

buku ini. Prubahan keyakinan keagamaan, antara lain disebabkan oleh

adanya perbedaan-perbadaan interpretasi oleh para penganut agama

dan oleh situasi-situasi yang berubah yang dilihat dan diinterpretasi

oleh para penganut agama tersebut secara berlainan. Ini

menyebabkan adanya tingkat-tingkat keyakinan keagamaan yang

dipunyai oleh para penganut.



J.P.William (1962 dalam Koentjaraningrat, ….) mengatakan

bahwa setidak-tidaknya ada empat tipe tingkat keagamaan; yaitu (1)

Tingkat rahasia, yakni, seseorang memegang ajaran agama yang

dianut dan diyakininya itu untuk dirinya sendiri dan tidak untuk

didiskusikan dengan atau dinyatakan kepada orang lain; (2) Tingkat

privat atau pribadi, yakni, dia mendiskusikan dengan, atau menambah

dan menyebarkan pengetahuan dan keyakinan keagamaannya dari

dan kepada sejumlah orang tertentu yang digolongkan sebagai orang

yang secara pribadi amat dekat hubungannya dengan dirinya; (3)

Tingkat Denominasi, yakni, individu mempunyai keyakinan keagamaan

yang sama dengan yang dipunyai oleh individu-individu lainnya dalam

suatu kelompok besar, dan karena itu bukan merupakan suatu rahasia

atau privat; dan (4) Tingkat masyarakat, yakni, individu memiliki

keyakinan keagamaan yang sama dengan keyakinan keagamaan dari

warga masyarakat tersebut.


Kindly Bookmark this Post using your favorite Bookmarking service:
Technorati Digg This Stumble Stumble Facebook Twitter
Your adsense code goes here

0 komentar:

Post a Comment

 

| SOCIAL STUDIES-Qu News © 2013. All Rights Reserved |Template Style by Social Studies-Qu News | Design by Fer Bas | Back To Top |