Tuesday, April 30, 2013

Konsep dan Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan di Indonesia




Konsep tentang Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education) di Indonesia
tidak dapat dilepaskan dari perkembangan Civics atau Ilmu Kewarganegaraan di Amerika
Serikat sebagai negara asal pelajaran Civics dan Civic Education. Membahas Civic
Education tidak dapat tanpa membahas pula tentang Civics yang sering dikaitkan dengan
Government. Dalam berbagai literatur Studi Sosial dapat dijumpai istilah Civic, Civics,
dan juga Citizenship, serta Civic Education. Pada bagian terdahulu dari uraian ini telah
dikemukakan bahwa pada tahun 1961/1962 telah dikenal nama Civics di SD,
sebagaimana ditetapkan dalam kurikulum tahun 1968 dinyatakan bahwa Pendidikan
Kewarganegaraan, mencakup Sejarah Indonesia, Ilmu Bumi, dan Civics atau Ilmu
Kewarganegaraan.


Untuk memperoleh pemahaman secara cepat dan bersifat fundamental dapat
dilakukan dengan mengkaji batasan citizenship seperti yang dikemukakan oleh Chapin
dan Messick (1989:114) bahwa untuk memahami konsepnya perlu diketahui terlebih
dahulu apa yang selayaknya dilakukan warganegara di lingkungannya, sekolah,
masyarakat dan pemerintahan sebagi berikut:

“what daes a citizen do? Often the answer we give depends on our frame of reference.
Good citizens” in elementary schools are children who obey and cooperate. “Good
citizens in our local communities are those who are perform acts of conserving public
property, coming the aid of someone in distress, and so on. As teacher, our orderly
classroom frame of reference can cause us to focus entirely on good cizenship as
obedience. We lose sight of the larger goal of preparing children for an active,
participatory citizenship. Knowing about the system of government and how it works is
basic to abroader definition of the citizenship rote. Good citizens protest misuse of
authority by the police. Good cizens urge new laws as a way of making desirable change.
This concept of citizenship requires that citizens be active, that they stand up for their
rights andf those of athers, and that they concider the common good whwn making
choices and decisions. Citizenship in our society requires knowledge of haw to make a
system work positively for us”

Kutipan di atas menunjukkan konsep yang luas dari Civic Education yang
pembahasannya juga mencakup aspek-aspek pengertian lainnya dari kewarganegaraan,
yang pengertiannya amat bergantung pada referensi kita, apakah itu di sekolah, atau di
lingkungan masyarakat. Namun demikian pengertian atau konsep Civic Education yang
ada di Indonesia, sebenarnya sudah tidak asing lagi sebab istilah Civics yang erat
kaitannya dengan Civic Education itu sudah dikenal sejak tahun 1961/1962 melalui buku
Supardo dkk. Selain itu pembahasan Civic Education tidak dapat dipisahkan dari Civics
oleh karena secara struktural Civic Education adalah perluasan dari Civics yang tidak
hanya menekankan pada aspek teoritik warganegara dan pemerintahan tetapi sudah
meluas kepada persiapan menjadi warga negara dengan pengetahuannya mengenai
negara dan pemerintahan. Di samping itu diharapkan pula kemampuannya untuk
berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara dengan menggunakan
pengetahuan dan ketrampilan yang dimilikinya. Oleh sebab itu adalah tepat jika
dikatakan bahwa tujuan akhir dari Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education)
adalah terbentuknya warganegara yang baik.

Belajar dari apa yang dilakukan bangsa-bangsa lain dalam pendidikan
kewarganegaraannya upaya serupa telah pula dilakukan di Indonesia. Tujuannya
diantaranya adalah dalam rangka meng-Indonesia-kan Bangsa Indonesia yang memang
dari berbagai aspek, baik sosial, budaya, ekonomi, agama dan bahkan ras, amat majemuk.
Maka sebagai bangsa yang majemuk yang pluralistik diharapkan melalui mata pelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan dapat dibina warganegara yang memahami dan
melaksanakan dengan baik hak-hak dan kewajibannya sebagai warganegara.

Secara klasik sering dikemukakan bahwa tujuan Pendidikan Kewarganegaraan di
Indonesia adalah untuk membentuk warga negara yang baik (a good citizen). Akan tetapi
pengertian warga negara yang baik itu pada masa-masa yang lalu lebih diartikan sesuai
dengan tafsir penguasa. Pada masa Orde Lama, warga negara yang baik adalah warga
negara yang berjiwa “revolusioner”, anti imperialisme, kolonialisme, dan neo
kolonialisme . Pada masa Orde Baru, warga negara yang baik adalah warga negara yang
Pancasilais, manusia pembangunan dan sebagainya. Sejalan dengan visi Pendidikan
Kewarganegaraan era Reformasi, misi mata pelajaran ini adalah meningkatkan
kompetensi siswa agar mampu menjadi warga negara yang berperan serta secara aktif
dalam sistem pemerintahan negara yang demokratis. Sehubungan dengan itu, Ace
Suryadi dan Somardi (2000:5) mengemukakan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan
memfokuskan pada tiga komponen pengembangan, yaitu (1) civic knowledge, (2) civic
skill, dan (3) civic disposition. Inilah pengertian warga negara yang baik, yang
diharapkan oleh Pendidikan Kewarganegaraan di Era Reformasi (Muchson, 2005:72).
Pendidikan Kewarganegaraan di Era Reformasi dituntut merevitalisasi diri agar mampu
melaksanakan misi sesuai dengan visinya itu. Hingga saat ini mata pelajaran tersebut
seakan tidak memiliki vitalitas, tidak berdaya, dan tidak dapat berfungsi secara baik
dalam meningkatkan kompetensi kewarganegaraan.

Dalam penataannya di dalam struktur kurikulum, Belinda Charles dalam Print
(1999:133-135), merekomendasikan isi Pendidikan Kewarganegaraan dapat ditata dalam
tiga model, yaitu formal Curriculum, Informal Curriculum, Hidden Curriculum. Dengan
model formal curriculum, implementasi pembelajarannya dapat menembus berbagai mata
pelajaran (cross-curriculum). Dengan model informal curriculum dapat
diimplementasikan dalam kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler, seperti kepanduan, klubklub
remaja, PMR, kegiatan rekreasi, dan olah raga. Model ini justru efektif dalam
pembentukan karakter remaja. Dengan model hidden curriculum, seperti misalnya etika,
dapat dikembangkan dalam tingkah laku sehari-hari.

SUMBER :
WARGANEGARA DAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (Sunarso) Jurusan PKn dan Hukum, FISE, UNY.

Kindly Bookmark this Post using your favorite Bookmarking service:
Technorati Digg This Stumble Stumble Facebook Twitter
Your adsense code goes here

0 komentar:

Post a Comment

 

| SOCIAL STUDIES-Qu News © 2013. All Rights Reserved |Template Style by Social Studies-Qu News | Design by Fer Bas | Back To Top |