Tuesday, April 30, 2013

Sejarawan: Hakim Masa Lampau




Dalam konteks akademis, sejarah merupakan suatu bidang ilmu atau
bidang studi yang memerlukan imajinasi kesejarahan yang kritis dalam
pengkajiannya. Hal ini dimaksudkan untuk menempatkan sejarah dalam setting
historis yang fenomenologis. Sejarah tidak selalu menyangkut “past event”
atau peristiwa-peristiwa masa lampau, tetapi juga berhubungan atau
menyangkut peristiwa-peristiwa mutakhir (current events). Dalam konteks ini,
sejarawan yang bertindak sebagai duta dari masa lampau tidak hanya
memberikan informasi tentang negeri pada jaman tertentu, tetapi juga kondisi
dan situasinya, sistem ekonomi, sosial, dan politik, serta seluruh fenomena
kehidupan masyarakat dalam pelbagai aspeknya. Dengan pelbagai pendekatan
dalam metodenya, sejarawan menjalankan tugasnya dalam pelbagai lapangan.
Hasilnya dapat memperdalam pengertian di bidang politik, ekonomi, sosial, dan
kebudayaan.



Bagi seorang sejarawan sangatlah penting untuk menyadari bahwa
wujud dan isi cita-cita serta nilai-nilai bangsanya tidak bisa dimengerti tanpa
refleksi kepada sejarah dan pengalaman bangsa itu. Oleh sebab itu, kesadaran
sejarah merupakan orientasi intelektual, suatu sikap jiwa yang perlu untuk
memahami secara tepat paham kepribadian nasional. Kesadaran sejarah sangat
diperlukan sebagai suatu cara untuk melihat realitas sosial dengan segala
permasalahannya bukan saja sebagai masalah-masalah moral yang memerlukan
jawaban ya atau tidak, putih atau hitam, melainkan agar manusia mampu
melihat masalah-masalah dinamika sosial termasuk segi moralnya, sebagai suatu
masalah-masalah historis yang memerlukan cara-cara penghadapan historis
pula.

Sejarawan harus bisa menjangkau bagian dalam peristiwa sejarah atau
pikiran-pikiran yang melatarbelakanginya. Dalam konteks ini Collingwood
menekankan keistimewaan yang dapat dilakukan oleh sejarawan terhadap
objeknya yaitu dengan jalan re thingking them in his own mind (memikirkan
kembali dalam pikiran sejarawan sendiri). Dengan ini, sejarawan harus mampu
meneropong pikiran pelaku sejarah dengan cara mencoba menghidupkan
kembali pikiran-pikiran pelaku sejarah tersebut dalam pikirannya sendiri;
dengan kata lain secra imajiner sejarawan harus mencoba menempatkan dirinya
ke dalam pelaku-pelaku sejarah yang bersangkutan. Ini dianggap merupakan
unsur pokok dalam “cara berpikir historis” (historical thingking) yang menjadi
dasar dari “cara menerangkan dalam sejarah” (historical explanation). Dengan
demikian sejarawan dianggap perlu memperhatikan prinsip koligasi dalam
menerangkan peristiwa yaitu suatu prosedur menerangkan suatu peristiwa
dengan jalan menelusuri hubungan-hubungan intrinsiknya dengan peristiwaperistiwa
lainnya dan menentukan tempatnya dalam keseluruhan peristiwa
sejarah.

Dengan demikian, akan dapat ditentukan langkah nyata untuk
memajukan usaha merekonstruksikan sejarah. Dengan pengetahuan masa
lampau yang benar dan kongkret, akan dapat diwujudkan identitas sejarah.
Usaha untuk mencari relevansi dapat diartikan bahwa sejarah harus menjadi
bagian dari pengetahuan kolektif yang mampu menjelaskan kesinambungan dan
perubahan masyarakat untuk kepentingan pembangunan. Jelaslah bahwa bahwa
penulisan sejarah, dewasa ini tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan masa kini
beserta masalah-masalahnya baik dalam bidang politik maupun dalam lapangan
ekonomi atau sosial.

Sejarah sebagai disiplin ilmu yang otonom, perlu dikembangkan
menurut pola kecenderungan ilmu sejarah itu sendiri. Penulisan sejarah
konvensional, yang menyusun ceritera sejarah secara deskriptif-naratif belaka,
hanya menerangkan bagaimana suatu peristiwa terjadi, dan tidak menyentuh
substansinya. Supaya mendapat gambaran yang lebih lengkap mengenai realitas
tersebut, orang perlu mendekati peristiwa sejarah dari pelbagai segi, yang
disebut pendekatan multidimensional dan sudah barang tentu memerlukan
metode dari pelbagai ilmu yang disebut metode Interdisipliner.Dalam konsep
ini metodologinya telah disempurnakan untuk menggarap pelbagai
permasalahan yang kompleks. Dengan meminjam konsep dan teori dari ilmuilmu
sosial yang lain, alat analitik dan kerangka konseptualnya menjadi
sempurna. Bukti dari itu semua adanya pertumbuhan produksi yang besar dalam
penulisan sejarah.

Sumber :
SEJARAH DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN
Oleh : Dr. Aman, M.Pd.1

Kindly Bookmark this Post using your favorite Bookmarking service:
Technorati Digg This Stumble Stumble Facebook Twitter
Your adsense code goes here

0 komentar:

Post a Comment

 

| SOCIAL STUDIES-Qu News © 2013. All Rights Reserved |Template Style by Social Studies-Qu News | Design by Fer Bas | Back To Top |