Wednesday, November 14, 2012

model evolusi dan model komparatif diakronis dalam melihat sejarah social




Model evolusi digunakan untuk menunjukkan jenis penullisan yang menunjukan jenis penulisan yang melukiskan perkembangan sebuah masyarakat itu berdiri sampai menjadi sebuah masyarakat yang kompleks. Tentu saja model ini hanya dpat diterapkan  pada bahan kajian yang memang mencoba mengkaji masyarakat dari permulaan berdiri, yaitu jika sumber sejarahnya memungkinkan untuk penulisannya.
Salah satu contoh tulisan model evolusi adalah sejarah kota dedham dimana dia menggambarkan sebuah kota new enggland dimana tempat para imigran dari eropa dating ke amerika digambarkan pada mulanya berupa sebuah utopian commune . dimana kota kota tersebut masih sangat muda dan lembaga lembaga masih sederhana, kehidupan masyarakatnya terpusat pada kegiatan keagamaan dan kegiatan politik yang bersifat komunal. Masyarakat komunal tersebut kemudian mengalami kemunduran dengan adanya kekuatan sejarah baru yang masuk berupa kegiatan komersial dan industry yang kemudian membuat dendham menjadi pinggir kota boston yang berkembang. Pusat keagamaan bukan lagi menjadi prioritas utama, sebab kota sudah menggantikan desa. Kehidupan komunal digantikan oleh kehidupan egalitalian dan penyimpangan politik. Proses ini terjadi sekitar 1646-1686 selama lima puluh tahun dari kehidupan kota kecil.[1] 
Gambar diatas menunjukkan  bahwa semakin jauh waktu berjalan, semakin kompleks kehidupan masyarakat, begitu pula dengan kehidupan sosial masyarakat yang ada didalamnya. Sekalipun untuk sebuah kota atau kehidupan social masyarakat di indonesia penulisan dengan model ini dapat dilakukan  namun hal itu bukan pekerjaan yang mudah.[2]
Model komparatif . jika diperhatikan dari segi formal, maka suatu perbandingan akan menonjolkan kemiripan dan akhirnya akan sampai pada generalisasi, sebagao contoh sebuah perbandingan sejarah pemberontakan petani banten  sebagai gerakan sosial. Dapat diidentifikasi antara lain  soal ideology, kepemimpinan, pengikut, mobilisasi, struktur organisasi, benturan dengan penguasa. Dari perbandingan perbandingan itu dapat ditemukan
·         adanya ideology, seperti mesianisme, perang jihad, dll
·         otoritas pemimpin yang kharismatic
·         hubungan patron client
·         konfontrasi dengan penguasa yang berakhir secara tragis[3]
model ini bisa  merupakan sebuah kumpulan dari lukisan sinkronis yang diurutkan dalam kronologis sehingga nampak perkembanganya, model ini dapat kita conthkan misalnya, ketika mendapat keterangan dari suatu zaman pada periode tertentu mengenai sebuah masyarakat, kebetulan ada keterangan mayarakat itu pada periode yang lain, sehingga ada urutan kronologis yang tidak sempurna namun menunjukan diakronisme.[4]
Atau juga bisa kita gambarkan ketika kita akanmeneliti sebuah peristiwa sejarah social pada masa lalu, karena kurang tersedia nya sumber sejarah maka, kita mencoba membandingkan perkembangan sebuah masyarakat yang akan kita teliti dengan perkembangan masyarakat yang ada ditempat lain dengan tetap menyertakan sisi temporal didalamnya.


Ruang sosial










 b
B
A

 

b 1

B 1

A 1
 




a
B
A

 

a 1

B 1

A 1
 



 






                                                  Waktu
Gambar : model komparatif     
Perhatian Durkheim tertuju pada upaya membuat analisis komparatif mengenai apa yang membuat masyarakat bisa dikatakan berada dalam keadaan primitif atau modern. Ia menyimpulkan bahwa masyarakat primitif dipersatukan terutama oleh fakta sosial non-material, khususnya oleh kuatnya ikatan moralitas bersama, atau oleh apa yang ia sebut sebagai kesadaran kolektif yang kuat. Tetapi, karena kompleksitas masyarakat modern, kekuatan kesadaran kolektif itu telah menurun. Menurutnya, pembagian kerja dalam masyarakat modern menimbulkan beberapa patologi. Dengan kata lain, pembagian kerja bukanlah metode yang memadai dan dapat membatu menyatukan masyarakat. Kecenderungan sosiologi konservatif Durkheim terlihat ketika ia menganggap revolusi dari Marx tidak diperlukan untuk menyelesaikan masalah. Menurut Durkheim, berbagai reformasi dapat memperbaiki dan menjaga sistem sosial modern agar tetap berfungsi. Meskipun ia mengakui bahwa tak mungkin kembali ke masa lalu, dimana kesadaran kolektif masih menonjol, namun ia menganggap bahwa dalam masyarakat modern moralitas bersama dapat diperkuat (Durkheim, 1964)[5]
Pelaksanaan Revolusi Hijau di Negara berkembang termasuk Indonesia dimulai sekitar tahun 1960-an. Hasil dari Revolusi hijau itu mengagumkan. Persoalan yang patut dikedepankan kemudian adalah bagaimana dampak sosial dari pelaksanaan program tersebut setelah lebih dari 20 tahun Revolusi Hijau, suatu istilah yang mulai kita kenal di Indonesia sejak tahun 1960-an, sebebarnya mengacu kepada program intensifikasi pertanian tanaman pangan. Program ini mengantarkan beberapa teknologi baru dalam teknik pertan ian (agronomi)sejak 1960-an ditewrapkan secara meluas di Negara-negara berkembang, khususnya dibenua Amerika latin dan kemudian di benua Asia. Di Indonesia sendiri sebenarnya program intensifikasi demikian sudah mulai dicoba sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1973, sewaktu pemerintah jajahan Hindia Belanda mengantarkan Verbeterde Cultuur Technieken.
Revolusi adalah suatu istilah yang mengacu kepada perubahan serentak tingkat tanaman (hijau) pangan seperti jagung, gandum, dan padi. Karena pada awal Revolusi Hijau belum jelas keliatan bagaimana dampak sosial program tersdebut, maka ada baiknya mengutip Clifton Wharton (1969) yang menuliskan karangan berjudul “The Green Revolution: Cornucopia or Pandora’s Box”, istilah ini mengacu kepada suatu pengertian (kotak Pandora) yang mengandung ketidakpastian, segala sesuatu bias keluar atau muncul dari kotak Pandora tersebut.
Sejak tahun 1963-1964 progarm Swa Sembada Bahan Makanan (SSBM) sebenarnya diintensifkan dengan pendekatan Bimbingan Massal (BIMAS) yang dikembangkan dan dterapkan oleh staf pengajar dan mahasiswa Fakultas Pertanian IPB di daerah Karawang. Dalam beberapa tahun saja, luas areal kemudian bertambah dengan hasil panen kwintal perhektar yang cukup menyakinkan. Hasil yang cukup menggiurkan tersebut mengantarkan rakyat Indonesia pada babak baru pertanian.
Dalam melihat fenomena terjadi revolusi hijau di nusantara, dengan menggunakan model evolusi maka hal pertama yang dilakukan oleh peneliti adalah meneliti awal mula kehidupan masyarakat  sebelum mengenal revolusi hijau. Sebelum masyarakat indoneisa mengenal kehidupan pupuk kimia dan obat obatan, mereka menyuburkan dengan pupuk kandang, kemudian berlanjut kepada pengenal pupuk dan obat obatan kimia, dari sisni dapat digali sikap masyarakat Indonesia terhadap barang baru tersebut, lalu penggunaan, dan hasilnya dari penggunaan bahan bahan tersebut, mungkin seperti itulah gambaran penulisan model evolusi dalam menuliskan terjadinya revolusi hijau diindonesi.
Sedangkan dari sudut model komparasi, kita bisa lakukan dengan membandingkan respon masyrakat pada awal penyuluhan hingga akhir masa revolusi hijau dimasing masing daerah, baik itu dengan kajian membandingkan dengan luar negeri atau dengan membandingkan hasil dan dampak revolusi hijau dimasing masing daerah di Indonesia untuk memperoleh gambaran tentang revolusi hijau


[1] Kuntowijoyo.1994. Metodologi Sejarah. Yogyakarta. Tiara wacana yogja.. hal 39-40
[2] Kuntowijoyo.op.cit
[3] Kartodirjo, sartono. Pendekatan Ilmu Sosial Dam Metodologi Sejarah. Jakarta : gramedia
[4] Ibid. hal 44
[5] Kurniawan, Hendra,. Op cit

Kindly Bookmark this Post using your favorite Bookmarking service:
Technorati Digg This Stumble Stumble Facebook Twitter
Your adsense code goes here

0 komentar:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

 

| SOCIAL STUDIES-Qu News © 2013. All Rights Reserved |Template Style by Social Studies-Qu News | Design by Fer Bas | Back To Top |