Saturday, December 8, 2012

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Pemilih




Dalam perilaku pemilih didalamnya tidak lepas dari individu aktor pemilih, agregasi politik dan tifologi kepribadian politik. Adapun individu aktor politik meliputi aktor (pemimpin, aktivitas politik, dan individu warga negara biasa. Agregasi adalah individu aktor politik secara kolektif, seperti kelompok kepentingan, birokrasi, partai politik, lembaga-lembaga pemerintahan, dan bangsa, sedangkan yang dipelajari dalam tipologi kepribadian politik adalah tipe-tipe kepribadian pemimpimpin otoriter, Machiavalist dan demokrat.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi prilaku politik pemilih masyarakat menurut Surbakti (1992:16) adalah:
1.    Lingkungan sosial poltik taklangsung, seperti sistem politik, ekonoi, sistem kebudayaan media massa.
2.    Lingkungan sosial politik langsung yang mempengaruhi dan membentuk kepribadian masyarakat seperti keluarga, agama, sekolah, dan kelompok pergaulan.
3.    Struktur kepribadian yang tercermin dalam sikap individu.
4.    Faktor lingkungan sosial politik langsung berupa situasi, yaitu keadaan yang mempengaruhi masyarakat secatra langsung ketika hendak melakukan suatu kegiatan, sepri cuaca, keadaan keluarga, keadaan ruang, kehadiran orang lain, suasana kelompok dan ancaman dengan segala bentuknya.
Dari lingkungan sosial politik langsung masyarakat mengalami sosialisasi langsung dan internalisasi nilai dan norma masyarakat, termasuk nilai dan nirma kehidupan  bernegara dan pengalaman-pengalaman hidup pada umumnya. Dimana faktor lingkungan sosial politik yang berupa sosialisasi internalisasi dan politisasio Selain itu faktor lingkungan sosial politik taklangsung juga mempengaruhilingkungan sosial politik langsung berupa situasi. Faktor lingskungan sosial berupa sosialisasi, internalisasi dan politisasi akan mempengaruhi struktur kepribadian atau sikap perilaku masyarakat.
Perilaku politik suatu masyarakat juga bisa dipengaruhi oleh adanya unsur-unsur kekuasaan. Seorang pemimpin sebagai pemilik kekuasaan bisa mempengaruhi, bahakan menciptakan dan menggiring pengikut, menjadi provokator pengikut, sehingga para pengikut dapat mempengaruhi pemimpin yang diinginkan. Sebaliknya seorang pengikut dapat mempengaruhi pemimpin, bisa memberikan bisikan, dan menyuruh untuk memeprtahankan kekuasaan dan bahkan bisa menjatuhkan kekuasaannya (Hidayat, 2002: 44). Beberapa unsur kekuasaan yang dapat berpengaruh terhadap perilaku seseorang menurut Hidayat adalah:
Influence
Unsur influence merupakan suatu unsur kekuasaan yang dilakukan dengan meyakinkan dan beragumentasi terhadap para pengikut, sehingga bisa mengubah tingkah laku atau perilaku seseorang.
Persuation
Unsur persuation adalah kemampuan untuk meyakinkan orang dengan cara aosialisasi atau persuasi baik positif atau negatif sehingga bisa timbul unsur manipulasi dan pada akhirnya bisa berakibat adanya desasaka.
Coercion
Coercion berati emngambil tindakan desakan dan kekuatan terhadap sesorang atau kelompok orang agar mengikuti apa yang diinginkannya.
Force
Unsur kekuasaan yang mengedepankan danya kekuatan massa termasuk dengan kekuatan milietr untuk mengubah perilaku seseorang atau sekelompok orang.
Perilaku masyarakat bisa juga dipengaruhi oleh budaya politik suatu mayarakat. Menurut Widjaja (1988:26) perubahan yang terjadi dalam ilmu politik terutama yang berhubungan dengan politik perbandingan adalah behavioral approach (pendekatan perilaku). Menurut David Apter  dalam budaya politik massa rakyat megharapkan para elite pemerintahan dapat mengatur dan menyediakan segala kehidupan rakyat. Akibatnya kepemimpinan pemerintah cenderung mempertajam sentralisasi, seperti monolitik dalam mengatur kegiatan ekonomi. Dalam kondisi demikian masyarakat hanya aktif bisa ada mobilisasi massa untuk patuh mengikuti pimpinan sepenuhnya.
Pemeritnah yang kuat dan disetai dengan kepastian yang kuat dari rakyat, biasanya mempunyai budaya politik yang menurut apter bersifat agama politik (political religion). Budaya politik tersebut merupakan usaha pencampuran politik dengan ciri-ciri keagamaan, dimana kedua bidang kehidupan tersebut merupakan kekautan paling dominan dalam masyarakat tradisional. 
Dengan demikian budaya politik dibentuk oleh sikap individu dan masyarakat dan pada akhirnya juga akan membentuk sikap dan tingkah laku masyarakat. Kepasifan masyarakat terhadap pimpinan pemerintahan justru akan membentuk agama politk yang pada akhirnya membentuk pola tingkah laku masyarakat yang cenderung irasional. Dalam hal ini masyarakat akan bertingkah laku mengikuti apa yang dilakukan orang/pimpinan yang diikutinya, sehingga perilaku masyarakat tidak dibentuk oleh dirinya sendiri namun telah dibentuk oleh individu atau kelompok lain.



Kindly Bookmark this Post using your favorite Bookmarking service:
Technorati Digg This Stumble Stumble Facebook Twitter
Your adsense code goes here

0 komentar:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

 

| SOCIAL STUDIES-Qu News © 2013. All Rights Reserved |Template Style by Social Studies-Qu News | Design by Fer Bas | Back To Top |