Saturday, December 8, 2012

Perilaku Politik Masyarakat




        Memahami persoalan mengenai prilaku politik masyarakat di negara kita, lebih enak apabila kita membelah dengan membangi kepada dua kategori masyarakat kita, yaitu masyarakat perkotaan dan masyarakat pedesaan atau tradisional. Sebagai asumsi umum masyarakat perkotaan merupakan bagian dari waga negara Indonesia yang sudah melek hurup dengan demikian mereka lebih bisa untuk bertindak rasional. Tindakan-tindakan politik mereka akan selalu di ukur dengan pertimbangan-pertimbangan yang rasional termasuk ketelibatannya dalam politik khususnya pemilu. Dengan beragamnya partai yang berbasiskan primordialitas (khususnya agama), warga kota yang punya keterikatan agama tertentu, walaupun mereka memilih partai ayang berbasiskankan agama, namun pilihan mereka cenderung lebih pada bagaimana program dan kinerja parpol tersebut selama ini.       
         Walaupun demikian, ada kecenderungan besar bahwa warga kota akan memilih bukan partai yang berbasiskan primordialisme dengan tetap berasusmsi pada kepentingan merupakan hal yang harus di agregasikan oleh partai tersebut walaupun belum tentu seluruhnya demikian. Dengan demikian, sebenarnya kehidupan politik akan nampak nyata di didaerah perkotaan ini apabila masyarakat meyakini dan mempercayai proses politik yang sedang berjalan ini betul-betul akuntabel, sebab dengan adanya kepercayaan ini, masyarakat akan berupaya berpartisipasi secara aktif dalam politik.
        Sementara di level pedesaan, masyarakat yang umumnya mempunyai tingkat pendidikan yang rendah, dengan afiliasi politik yang kental dengan basis tradisional akan sulit bagi mereka untuk memahami kenyataan bahwa politik itu adalah bagian dari hak mereka. Artinya politik bagi mereka tidak dipahami sebagai sebuah sarana untuk menjamin kehidupan mereka, bahkan mungkin justru politik bagi mereka adalah sebuah kepatuhan dan kewajiban. Dengan demikian, kehidupan politik akan sangat hambar hal ini dikarenakan partai politik tidak akan berupaya untuk bersaing dengan kontestan pemilu lain dengan gagasan dan ide-ide yang terkait dengan program kerja partai. Partai politik akan berupaya mempergunakan jaring-jaring sosial dalam masyarkat pedesaan yang sangat efektif untuk melakukan mobilisasi massa.
       Kenyataan tersebut diatas sudah dan akan terjadi lagi pada saat-saat pemilu yang akan datang, tidak hanya partai yang jelas-jelas bebasiskan Islam tapi juga seluruh partai yang punya peluang untuk memperguanakannya. Jaring-jaring sosial keagaamaan yang paling menonjol di negara kita di representasikan oleh warga nahdiliyin yang mempunyai tingkat patronase tinggi terhadap kyainya. Apabila banyak partai yang menyatakan diri sebagai partai Islam dan mempunyai link dengan jaringan itu, maka yang terjadi adalah perebutan jaring-jaring sosial keagamaan itu. Lantas yang paling menghawatirkan adalah pertarungan partai politik dalam memperebutkan massa lewat jaring sosial keagamaan ini akan berpengaruh pada keharmonisan kehidupan sosial masyarakat. Pada posisi demikian akan banyak masyarakat kebingungan, artinya apakah dia harus mengikuti afiliasi patron mereka yang sudah terkontaminasi politik tertentu ataukah tidak. Proses  menurut hemat saya proses perebutan basis massa ini akan jauh mempengaruhi keharmonisan masyarakat di tingkat pedesaan. Tidak hanya melahirkan konflik antar kelompok tetapi juga daerah dan bahkan di tingkat keluarga
         Kalau kita ikuti pembilahan sosial yang dikemukakan oleh Cliford Geertz mengenai Islam di Indonesia, yaitu kelompok santri, kelompok priyayi, dan kemlompok abangan, maka dalam kategori ini kelompok santri akan menjadi representasi pemilih Indoensia yang berafiliasi pada partai berbasiskan Islam. Sementara kelompok priyayi dan abangan akan masuk kedalan partai politik yang berbasis nasionalis.
 sumber :



Kindly Bookmark this Post using your favorite Bookmarking service:
Technorati Digg This Stumble Stumble Facebook Twitter
Your adsense code goes here

0 komentar:

Post a Comment

 

| SOCIAL STUDIES-Qu News © 2013. All Rights Reserved |Template Style by Social Studies-Qu News | Design by Fer Bas | Back To Top |