Thursday, January 31, 2013

HIKMAH PERISTIWA PUPUTAN MARGARANA




      Setiap peristiwa sejarah akan mebuat si  pembaca menjadi lebih bijak, seperti yang di katakana oleh Pak Karno “ Jas Merah “  yang artinya jangan sekali kali melupakan sejarah karena dengan belajar dari sejarah manusia akan menjadi lebih bijak dari sebelunya, manusia memiliki kemapuan untum mengambil hikmah dan mengubah sesuatu menjadi lebih baik. Dari perang puputan sendiri kita tentunya bias mengambil hikmah yang tidak sedikit dari pahlawan nasional kita yakni I gusti Ngurah Rai beserta pasukan ciung wanara yang telah mengorbankan jiwa dan raga sampai titik darah penghabisan. Pelajaran yang dapat diambil diantara :


  1. Cita-cita yang jelas.
Cita-cita dari Pak Ngurah Rai dan kawan-kawannya, yaitu kemerdekaan bangsa Indonesia. Pembebasan ibu pertiwi dari penjajahan bangsa asing. Ini adalah cita-cita besar, yang melampaui cita-cita pribadi atau golongan. Bung Karno meminta kita menggantungkan cita-cita setinggi langit. Cita-cita membuat kita bangun lebih pagi, membuat kita tahan lebih lama bekerja di bawah terik matahari, membuat kita sebagai golongan pelajar selalu bersemangat dalam belajar. Setiap zaman sebenarnya menyediakan tantangan dan kesempatan bagi setiap orang untuk melakukan tindakan-tindakan besar, tindakan-tindakan bermakna, yaitu bila kita bekerja tidak hanya bagi diri kita sendiri, tapi juga bagi kebaikan orang lain, orang banyak.

  1. Semangat pantang menyerah.
Ketika Pak Ngurah Rai diajak berunding oleh Overste (Letkol) Ter Meulen, komandan tentara Belanda untuk Sunda Kecil, beliau menjawab tegas "perundingan adalah urusan orang Jakarta, sedangkan tugas kami adalah mengusir penjajah dari pulau ini."Yang jelas, inilah hasil sebuah cita-cita besar yang diikuti dengan semangat pantang menyerah.

  1. Keberanian
I Gusti Ngurah Rai dan kawan-kawannya pastilah bukan orang-orang pengecut. Kalau dia orang penakut, pastilah dia akan mengakhiri hidupnya sebagai pensiunan pegawai perkebunan kapas milik pemerintah jajahan Jepang. I Gusti Ngurah Rai dan kawan-kawan tidak mau menempuh jalan aman dan menjadi seorang penakut. Mereka dengan sadar memilih jalan sulit dan berbahaya. Mereka memilih menempuh jalan yang jarang dilalui oleh orang kebanyakan.

  1. Pengorbanan
Apapun yang manusia lakukan memerlukan pengorbanan. Bahkan kalau kita tidak melakukan sesuatu juga mengorbankan sesuatu, yaitu kesempatan. Hidup ini memang menuntut pengorbanan. Dalam bahasa agama hindu, kata Yadnya adalah kata yang sangat mulia. Yadnya adalah salah satu inti utama dari agama hindu. Masyarakat Indonesia kebanyakan melupakan arti penting sejarah, padahal bila belajar dari sejarah apa yang kita peroleh sekarang tidak lepas dari pengorbanan para pendahulu kita.
Dengan bekal, cita-cita yang jelas, keberanian, semangat pantang menyerah, dan kemauan untuk berkorban mungkin Indonesia akan menjadi Negara yang jauh lebih baik dari pada sekarang.

Kindly Bookmark this Post using your favorite Bookmarking service:
Technorati Digg This Stumble Stumble Facebook Twitter
Your adsense code goes here

0 komentar:

Post a Comment

 

| SOCIAL STUDIES-Qu News © 2013. All Rights Reserved |Template Style by Social Studies-Qu News | Design by Fer Bas | Back To Top |