Tuesday, April 30, 2013

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INTERAKSI SOSIAL



A. Pendahuluan
Berlangsungnya suatu proses interaksi yang didasarkan pada
pelbagai factor, antara lain, factor imitasi, sugesti, identifikasi, dan
simpati. Faktor-faktor tersebut dapat bergerak sendiri-sendiri secara
terpisah maupun dalam keadaan yang bergabung. Apabila masingmasing
ditinjau secara lebih mendalam, maka factor imitasi misalnya,
mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses interkasi
social.

 Salah satu segi positifnya adalah bahwa imitasi dapat
mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai
yang berlaku. Namun demikian, imitasi mungkin pula mengakibatkan
terjadinya hal-hal yang negative, misalnya, yang ditiru adalah tindakantindakan
yang menyimpang. Kecuali daripada itu, imitasi juga dapat
melemahkan atau bahkan mematikan pengembangan daya kreasi
seseorang.

B. Faktor yang mempengaruhi interaksi sosial
Pada interaksi social terdapat factor-faktor yang mempengaruhi
interaksi social tersebut, yaitu :

1. Faktor yang menentukan berhasil atau tidaknya iteraksi sosial,
diantaranya adalah :

a. Situasi sosial
Situasi social memberi bentuk tingkah laku terhadap individu yang
berada dalam situasi tertentu. Misalnya, apabila mendatangi orang
yang sedang berduka, pola interaksi yang digunakan harus
berbeda dengan pola interaksi yang dilakukan ketika berinteraksi
dalam keadaan yang riang atau gembira. Karena setiap orang atau
individu harus menyesuaikan diri dengan situasi yang sedang
dihadapi.

b. Kekuasaan norma-norma kelompok
Kekuasaan norma-norma kelompok sangat berpengaruh terhadap
terjadinya interaksi social antar individu. Misalnya, individu yang
mentaati norma-norma yang ada dalam suatu lingkungan
bermasyarakat, setiap berinteraksi tidak akan membuat kekacauan,
berbeda dengan individu yang tidak menaati norma-norma yang
berlaku, individu tersebut pasti akan menimbulkan kekacauan
dalam kehidupan sosialnya. Karena kekuasaan norma berlaku
untuk semua individu dalam kehidupan social.

c. Ada tujuan kepribadian yang dimiliki masing-masing individu
Dengan adanya kepribadian yang dimiliki masing-masing individu
akan berpengaruh terhadap perilakunya. Misalnya, di dalam
berinteraksi setiap individu atau orang pasti memiliki tujuan, hal ini
dapat dilihat saat seseorang siswa berinteraksi dengan gurunya
dengan tujuan untuk menuntut ilmu di dunia sekolah.

d. Setiap individu berinteraksi sesuai dengan kedudukan dan kondisi
yang bersifat sementara.
Pada dasarnya status dan kedudukan yang dimiliki oleh setiap
individu bersifat sementara. Misalnya, kepala sekolah dan guru,
hubungan terlihat adanya jarak antara seseorang yang tidak
memiliki kedudukan dalam suatu kelompok sosialnya.

e. Adanya penafsiran situasi
Setiap situasi individu mengandung arti bagi setiap individu
sehingga mempengaruhi individu untuk melihat dan menafsirkan
situasi tersebut. Misalnya, ada teman yang murung dan suntuk,
individu yang lain harus bisa membaca situasi yang dihadapannya.
Bagaimanapun individu harus bisa menyesuaikan diri dengan
keadaan yang sedang dihadapi dan berusaha untuk membantu
menafsirkan situasi yang tidak diharapkan menjadi situasi yanh
diharapkan.

2. Faktor Dasar Interaksi Sosial
Adapun faktor yang mendasari interaksi social diantaranya
adalah factor imitasi, sugesti, identifikasi dan factor simpati

a. Faktor Imitasi
Gabriel Tarde berpendapat bahwa seluruh kehidupan social
itu sebenarnya hanya berdasarkan factor imitasi ( meniru ). Karena
peranan imitasi dalam intraksi social itu sangat besar. Misalnya
kebiasaan meniru yang dilakukan anak kecil terhadap apa yang
dianggapnya sebagai hal yang baru dan menarik.

Dalam dunia pendidikan dan perkembangan kepribadian
individu, imitasi ( meniru ) mempunyai peranan untuk mendorong
perkembangan watak seseorang. Imitasi dapat mendorong individu
atau kelompok untuk melaksanakan perbuatan yang baik.
Selanjutnya apabila seseorang telah di didik dalam suatu tradsisi
tertentu, yang melingkupi segala situasi social, maka orang tersebut
akan memiliki “ kerangka cara bertingkah laku dan sikap dan moral
“ yang dapat menjadi pokok pangkal untuk memperluas
perkembangan yang positif. Salah satu segi positifnya adalah
imitasi yang mendorong seseorang untuk memenuhi kaidah-kaidah
dan nilai-nilai yang berlaku. Namun demikian, imitasi dapat juga
menyebabkan terjadinya hal-hal yang negative, misalnya yang ditiru
adalah tindakan-tindakan yang menyimpang. Selain itu imitasi
dapat juga melemahkan atau bahkan mematikan kreativitas
seseorang.

b. Faktor Sugesti
Faktor sugesti memegang peranan yang penting dalam
pembentukan norma kelompok, prasangka social, norma soasial,
norma politik dan sebagainya. Sebab, kebanyakan orang tingkah
lakunya berpedoman pada adat kebiasaan dan lingkungan
sekitarnya. Sugesti dalam ilmu jiwa social dapat dirumuskan
sebagai suatu proses seseorang atau individu menerima suatu cara
atau pedoman-pedoman tingkah laku dari orang lain tanpa adanya
kritik terlebih dahulu. Proses sugesti dapat terjadi apabila orang
yang memberikan pandangan adalah orang yang berwibawa atau
mungkin karena sifatnya yang otoriter. Misalny, eseorang yang
dibawa ke dokter, ketika sampai di rumah sudah sembuh meskipun
belum minim obat.

c. Faktor Identifikasi
Identifikasi menurut Freud adalah cara seorang anak belajar
norma social dari orang lain, proses identifikasi terjadi di seluruh
norma, sikap, tingkah laku yang dianggap dapat dijadikan norma,
cita-cita dari anak itu sendiri. Identifikasi sifatnya lebih mendalam
daripada imitasi dan sugesti, karena kepribadian seseorang dapat
terbentuk atas dasar proses ini.

Proses identifikasi dapat berlangsung dengan sendirinya (
secara tidak sadar ), maupun dengan sengaja karena kebiasaan
seseorang menggunakan atau meniru hal tertentu dari orang yang
sangat di kenalnya atau di segani dalam kehidupan sehari-harinya,
misalnya tentang pedoman hidupnya, sikap atau tingkah lakunya
sampai akhirnya menjiwai hal-hal tersebut.

Nyatalah bahwa berlangsungnya identifikasi mengakibatkan
terjadinya pengaruh-pengaruh yang lebih mendalam daripada
proses imitasi dan sugesti walaupun ada kemungkinan bahwa pada
mulanya proses identifikasi diawali oleh imitasi atau sugesti.

d. Faktor Simpati.
Proses simpati merupakan suatu proses seseorang merasa
tertarik pada fihak lain. Di dalam proses ini perasaan memegang
peranan walaupun dorongan utama pada simpati adalah keinginan
untuk memahami fihak lain dengan tujuan untuk bekerja
sama.Simpati timbul tidak berdasar logis rasional tetapi
berdasarkan penilaian perasaan, seperti juga pada proses
identifikasi. Proses simpati akan dapat berkembang, di dalam suatu
keadaan di mana factor saling mengerti terjamin.

Menurut Soerjono Soekanto, simpai merupakan faktor-faktor
minimal yang menjadi dasar dalam berlangsungnya proses
interaksi social, walaupun dalam kenyataannya proses tadi
memang sangat kompleks, sehingga kadang-kadang sulit untuk
mengadakan pembedaan-pembedaan yang tegas antara factorfaktor
tersebut. Tetapi dapat dikatakan bahwa, imitasi dan sugesti
terjadinya lebih cepat, namun pengaruhnya kurang mendalam
apabila dibandingkan dengan identifikasi dan simpati yang secara
relative agak lebih lambat proses berlangsungnya.

Kindly Bookmark this Post using your favorite Bookmarking service:
Technorati Digg This Stumble Stumble Facebook Twitter
Your adsense code goes here

0 komentar:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

 

| SOCIAL STUDIES-Qu News © 2013. All Rights Reserved |Template Style by Social Studies-Qu News | Design by Fer Bas | Back To Top |