Thursday, May 2, 2013

Hegemoni Teori Sosial Barat terhadap Pemikir-pemikir Sosial indonesia




Teori sosial barat memberi banyak pengaruh pada peta keilmuwan sosial di Indonesia. Fakta bahwa sebagian besar ilmu sosial dan humaniora di masyarakat (negara) berkembang datang dari barat telah memunculkan masalah relevansi ilmu-ilmu sosial bagi kebutuhan dan masalah dunia ketiga. Tokoh-tokoh barat terkadang diposisikan sebagai penemu, perintis beberapa teori sosial yang pada tahapannya akhirnya ditanamkan dan digunakan di masyarakat non-barat.


Relasi antara timur dan barat beroperasi berdasarkan model ideology yang dalam pandangan Gramsci sebagai Hegemoni, suatu pandangan bahwa gagasan tertentu lebih berpengaruh dari gagasan lain, sehingga kebudayaan tertentu lebih dominan dari kebudayaan lain. Dalam konteks ini ada dominasi gagasan barat terutama dalam ilmu sosial terhadap pemikiran gagasan dunia timur.

Masyarakat intelektual Indonesia diposisikan sebagai konsumen yang selalu membeli teori-teori pemikiran dari dunia barat yang terkadang tidak sesuai dengan kajian masyarakat di negara dunia ketiga. Hegemoni teori sosial barat menjadi suatu keniscayaan karena perkembangan pengetahuan barat yang maju beberapa langkah dibanding perkembangan keilmuwan di dunia ketiga.

Perkembangan tersebut menurut Farid Alatas,23 sebagai akibat langsung dari perkembangan teknologi informasi serta dorongan kuat untuk mengembangkan ilmu-ilmu sosial di Barat, akibat perkembangan itu dipandang sebagai fenomena Barat. Ilmu-ilmu sosial yang berkembang dan dipelajari di lembaga pendidikan (kampus) di Indonesia, termasuk juga negara-negara Dunia Ketiga merupakan ilmu sosial yang dihasilkan oleh sarjana Barat dari hasil pembacaan terhadap masyarakat mereka.

Kuatnya pengaruh ilmu sosial Barat tersebut lebih disebabkan masalah internal intelektual-akademisi Indonesia sendiri, mereka telah terpuaskan dengan meniru apa yang berkembang di Barat, bahkan intelektual Indonesia bekerja keras untuk menerapkan teknik yang dipelajari dari buku-buku yang ditulis oleh sarjana Amerika dan Eropa dalam menjelaskan dan persoalan empiris atas masalah yang kebanyakan dirumuskan oleh ilmuwan Barat.

Ketergantungan terhadap teori barat sebenarnya tidak menjadi dominasi dari perkembangan ke ilmuwan di Indonesia. Hampir kebanyakan negara di Asia sangat bergantung pada teori barat. Ilmuwan asia sudah berpuas diri dengan hanya sebagai intelektual peniru, ilmuwan-ilmuawan tersebut bekerja keras menerapkan teknik yang dipelajari dari buku-buku inggris dan Amerika untuk memperoleh jawaban empiris ada masalah-masalah kebanyakan yang dirumuskan oleh sosiologi barat.

Hegemoni teori sosial barat sudah dirasakan sejak beberapa dekade lalu, dimana banyak teori barat yang kurang cocok dengan realitas masalah sosial di Asia. Selama itu pula hanya sedikit karya ilmuwan sosial yang berhasil menciptakan mahzab pemikiran ilmu sosial yang dinasionalisasi, dilokalkan sesuai dengan ciri khas negara-negara di Asia. Dominasi teori barat jelas terlihat, hal tersebut terjadi karena tingginya derajat yang disematkan pada teori, sehingga mengukuhkan teori barat baik klasik maupun kontemporer sebagai pusat perdebatan teoretis.
Akibat dari dominasi tersebut muncul ketergantungan dari negara-negara di Asia terhadap perspektif teori sosial barat. Kebergantungan intelektual dapat dilihat baik dalam struktur kebergantungan akademis maupun dari relevansi ide-ide yang berlatar asing. Kebergantungan akademis dapat diukur dari ketersediaan relative dana dunia pertama untuk riset, prestise yang dilekatkan pada publikasi jurnal Amerika dan Inggris, kualitas tinggi pendidikan universitas barat dan banyak indicator lainnya.

Hegemoni teori sosial barat tidak bisa dipungkiri masih menjadi mahzab yang selalu menghiasi bangku perkualiahan. Dalam sosiologi, jika akan mengetahui tentang kapitalisme maka rujukannya selalu teori yang dikemukakan Karl Marx, apabila ingin tahu tentang legitimasi dan birokrasi, maka acuannya Max Weber sedangkan apabila berbicara gender pasti yang dilihat teori feminis. Penggunaan teori-teori tersebut dikarenakan teori memungkinkan dan membantu pemahaman yang lebih baik terhadap segala sesuatu dalam tahap intuitif. Teori selalu bersifat majemuk dan multisentral, sehingga terkadang teori menjadi sulit dan harus melihat pada teoritisi secara khusus.


SUMBER : Dari Diskursus Alternatif menuju Indigeneousasi Ilmu Sosial
Indonesia: Teoritisasi ‘Prophetic Political Education’
Oleh Nasiwan & Grendi Hendrastomo (UNY)

Kindly Bookmark this Post using your favorite Bookmarking service:
Technorati Digg This Stumble Stumble Facebook Twitter
Your adsense code goes here

1 komentar:

mazhabkepanjen.com on February 22, 2017 at 4:13 PM said...

Kira2 teori sosial apa yang paling cocok dg kondisi indonesia saat ini..

Filsafatmazhabkepanjen.blogspot.com

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

 

| SOCIAL STUDIES-Qu News © 2013. All Rights Reserved |Template Style by Social Studies-Qu News | Design by Fer Bas | Back To Top |